Beranda > Pahlawan, Sejarah, Tokoh Masyarakat > Jenderal Oerip Sumoharjo, sang bapak TNI

Jenderal Oerip Sumoharjo, sang bapak TNI

Siapa sebenarnya Jenderal Oerip Sumoharjo?
Beliau adalah salah seorang Pahlawan Nasional yang juga terlahir di Purworejo. Selain itu, Jenderal Oerip Sumoharjo merupakan salah satu tokoh yang ikut serta dalam membangun berdirinya TNI (Tentara Nasional Indonesia) bersama dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Semasa kecil, tokoh yang lahir di Purworejo pada tanggal 23 Februari 1893 ini memiliki nama Muhammad Sidik. Pada mulanya Jenderal Oerip Sumoharjo bercita-cita untuk menjadi seorang pegawai pemerintah, oleh karenanya beliau menuntut ilmunya di OSVIA (Sekolah Calon Pegawai Pemerintah) di Magelang. Namun lambat laun keinginannya untuk menjadi seorang tentara-pun tumbuh, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari OSVIA kemudian masuk sekolah militer di Jakarta. Beliau lulus dari sekolah tersebut dengan menyandang predikat sebagai perwira teladan (1913) dengan nilai yang sangat bagus. Tak lama kemudian beliau berdinas di KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger), yaitu tentara Kerajaan Hindia Belanda. Walaupun KNIL merupakan tentara Kerajaan Hindia Belanda, namun anggotanya lebih banyak didominasi oleh orang pribumi (Indonesia) dan juga Indo-Belanda dibanding orang Belanda asli. Tokoh-tokoh yang tergabung dalam KNIL saat itu antara lain A.H. Nasution, Gatot Subroto, T.B. Simatupang dan A.E. Kawilarang yang pada akhirnya memegang peranan penting dalam pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada masa kemerdekaan.

Ketika masuk KNIL Jenderal Oerip Sumoharjo berpangkat Letda (Letnan Dua), dan beliau pernah ditempatkan dibeberapa tempat seperti Kalimantan dan Padang Panjang, Sumatera Barat. Walaupun KNIL merupakan tentara Kerajaan Hindia Belanda, namun perhatiannya terhadap bangsa Indonesia tidak berkurang sedikitpun. Beliau sering melakukan protes terhadap pemerintah Hindia Belanda yang kerap kali memperlakukan angota-anggota KNIL asal pribumi secara tidak adil.

Foto Jenderal Oerip Sumoharjo

Pada saat Ratu Wilhelmina (Ratu Belanda) mengadakan perayaan hari ulang tahunnya, Jenderal Oerip Sumoharjo melarang Bupati Purworejo yang saat itu terlambat hadir dalam kegiatan tersebut. Hal ini disebabkan karena keterlambatan bisa diartikan sebagai sebuah pelanggaran peraturan panitian yang kebetulan juga diketuai oleh Jenderal Oerip Sumoharjo. Karena kejadian tersebut, Jenderal Oerip Sumoharjo kemudian dipindahkan ke Gombong, Kebumen. Namun pemindahan tersebut ditolak, dan beliau memilih untuk keluar dari KNIL.
Jenderal Oerip Sumoharjo pernah menjadi tawanan perang pada masa pemerintahan Jepang selama kurang lebih 3 bulan. Setelah bebas, beliau ditawari untuk menjadi Komandan Polisi, namun lagi-lagi beliau menolak tawaran tersebut. Dan karena penolakan beliau terhadap tawaran pemerintah Jepang, maka beliau dianggap sebagai pembangkang yang akhirnya mengawasi semua kegiatan yang dilakukan oleh Jenderal Oerip Sumoharjo.

Pada masa jaman kemerdekaan, Jenderal Oerip Sumoharjo mengusulkan agar pemerintah Republik Indonesia segera membentuk tentara. Usul tersebut disetujui, tak lama kemudian berdirilah TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada akhirnya pemerintah mengangkat Jenderal Oerip Sumoharjo menjadi Kepala Staf Umum dari TKR, sebuah jabatan tertinggi dalam TKR saat itu. Semasa menjabat sebagai pimpinan tertinggi TKR, Jenderal Oerip Sumoharjo terus berupaya untuk menyempurnakan keorganisasian tentara hingga pada akhirnya TKR berkembang menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia).
Pada tahun 1948 Jenderal Oerip Sumoharjo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Staf Umum TKR, hal ini disebabkan karena beliau tidak setuju dengan Perjanjian Renville yang dianggapnya merugikan bangsa Indonesia. Namun kemudian beliau diangkat sebagai Penasehat Militer Presiden Soekarno.

Pada 17 November 1948 Jenderal Oerip Sumoharjo wafat dan dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) Semaki, Yogyakarta. Dan sebagai penghargaan atas semua jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara, pemerintah menganugerahinya dengan gelar Pahlawan Pembela Kemerdekaan (10 Desember 1964) berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI nomor 314 / tahun 1964.
Selain itu, sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap Jenderal Oerip Sumoharjop maka nama beliau kini digunakan sebagai nama salah satu jalan besar di kota Yogyakarta, sebagai bentuk penghormatan bagi beliau.

Sumber: Wikipedia.org, PurworejoBerirama.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: