Beranda > Budaya, Sejarah > Bedug Kyai Bagelen, peninggalan keagungan dimasa lalu

Bedug Kyai Bagelen, peninggalan keagungan dimasa lalu

Bedug Kyai Bagelen atau yang juga dikenal sebagai Bedug Pendowo yang dibuat sekitar tahun 1762 Jawa / 1834 Masehi merupakan salah satu aset wisata daerah Kabupaten Purworejo yang cukup banyak menyerap wisatawan. Dulu, pada saat kabupaten Purworejo masih berstatus sebagai Kadipaten, KRAA Cokronagoro I memerintahkan kepada Raden Patih Cokrojoyo untuk membuat bedug yang berasal dari kayu jati yang diambil dari hutan Pendowo wilayah desa Bragolan. Raden Patih Cokrojoyo memanggil Wedono Bragolan yaitu Raden Tumenggung Prawironegoro yang juga adik dari KRAA Cokronagoro I sendiri, untuk bersama-sama melaksanakan perintah tersebut. Akhirnya disepakati untuk membuat bedug besar dengan menggunakan bahan dari “bongkot” (pangkal) kayu jati bang atau pohon kayu jati yang bercabang lima (dalam Serat Kaweruh Kalang / ilmu bangunan Jawa disebut sebagai pohon Jati Pendowo), daerah dimana terdapat pohon jati pendowo ini disebut sebagai dusun Pendowo Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi (lokasi tepatnya dikompleks Puskesmas “Jati” / Puskesmas Bragolan, 300m dari tempat tinggal penulis).

Bedug Kyai Bagelen (Bedug Pendowo)

Setelah mendapatkan restu dari Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I, maka dimulailah pembuatan Bedug Agung tersebut yang memakan waktu cukup lama. Hal ini disebabkan karena peralatan yang dipergunakan pada masa itu belumlah semodern seperti sekarang ini. Proses pembuatan bedug tersebut senantiasa didukung oleh para ulama yang selalu memohon kehadirat Allah SWT agar mendapatkan petunjuk serta kekuatan-Nya.

Bedug Kyai Bagelen ditempatkan di Masjid Agung Kadipaten Purworejo (*sekarang Masjid Agung Darul Muttaqien) yang dibangun dengan arsitektur Jawa berbentuk Tanjung Lawakan Lambang Teplok (mirip Masjid Agung yang terdapat pada Kraton Solo) pada tahun 1833 atas perintah KRAA Cokronagoro I. Sedangkan bahan yang dipergunakan sebagai tiang utama juga diambil dari kayu Jati Bang (hanya bercabang 5) dengan umur ratusan tahun dan memiliki diameter lebih dari 200 cm, serta tinggi mencapai puluhan meter.
Masjid Agung Kadipaten Purworejo ini dibuat pada hari Ahad tanggal 2 bulan Besar Tahun Alip 1762 Jawa atau bertepatan dengan tanggal 16 April 1834 Masehi, seperti tercantum pada prasasti yang terpasang di atas pintu utama masjid agung tersebut. Letak Masjid Agung sendiri berada di sebelah barat alun-alun Kota Purworejo.

Masjid Agung Kadipaten Purworejo tempo doeloe (*sekarang Masjid Agung Darrul Muttaqin)

Data Bedug Kyai Bagelen:

  • Panjang bedug = 292 centimeter
  • Garis tengah bagian depan = 194 centimeter
  • Garis tengah bagian belakang = 180 centimeter
  • Keliling bagian depan = 601 centimeter
  • Keliling bagian belakang = 564 centimeter
  • Paku bagian depan = 120 buah
  • Paku bagian belakang = 98 buah

Data Bedug Kyai Bagelen

Sedangkan kulit bedug dibuat dari kulit banteng dengan ukuran garis tengah 220 cm. Pada tahun 1936 bagian kulit bagian belakang rusak dan diganti dengan kulit sapi Benggala (Ongak). Sampai tahun 2005 telah dilakukan penggantian kulit bedug bagian pada bagian belakang sebanyak 3 kali, terakhir pada tahun 1996.
Kulit bagian depan masih utuh tetap kulit asli sejak dibuatnya yaitu dari kulit banteng.

Sumber: Budaya Purworejo

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: