Beranda > Sejarah > Pabrik Gula “Jenar” di era Kolonial Belanda

Pabrik Gula “Jenar” di era Kolonial Belanda

Nama desa itu dikenal sebagai Jenar, dan saya yakin nama desa tersebut akrab di telinga masyarakat Purworejo, khususnya para penduduk di wilayah kecamatan Purwodadi, kecamatan Ngombol dan juga kecamatan Bagelen. Ada apa dengan Jenar dimasa kolonial Belanda “tempo doeloe”? Ternyata nama desa Jenar memiliki arti penting dalam catatan sejarah, hampir sama seperti daerah-daerah lainnya di Purworejo. Dulu (di masa kolonial Belanda), pernah didirikan sebuah Suikerfabriek atau dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan Pabrik Gula. Suikerfabriek Poerworedjo sendiri dibangun pada tahun 1909 oleh N.V.Suikeronderneming “Poerworedjo”, yaitu sebuah PT (Perusahaan Terbuka) yang dibentuk di Amsterdam (Belanda) pada tahun 1908. Tujuan PT tersebut tak lain adalah untuk mengusahakan berdirinya sebuah pabrik gula di Purworejo dengan menghabiskan modal 5 juta gulden yang terbagi dalam saham masing-masing lembar senilai 1000 gulden. Pada saat itu orang Belanda berlomba lomba untuk mendirikan pabrik gula di Jawa sehubungan dengan adanya fasilitas berdasar Undang-Undang Agraria tahun 1870 dan juga mengingat kebutuhan gula di dunia meningkat sangat tajam. Dan hal itu jugalah yang memicu pertumbuhan pabrik gula di Jawa berkembang pesat hingga mencapai jumlah 180 pabrik pada akhir tahun 1920. Saat itu, Indonesia (Jawa) menjadi salah satu pengeskpor gula terbesar di dunia bersama dengan Kuba.

Sebenarnya lokasi tepat berdirinya Suikerfabriek Poerworedjo bukanlah didesa Jenar, melainkan didesa Plandi yang juga termasuk dalam wilayah kecamatan Purwodadi. Mungkin dikarenakan nama Jenar lebih terkenal (seperti halnya stasiun Jenar yang sebenarnya berada di wilayah dusun Kengkeng, desa Bragolan) dibandingkan Plandi, bahkan juga Purwodadi yang waktu itu berstatus sebagai Kawedanan (Distrik) dari Kabupaten Purworejo. Pada waktu saya masih SMP, benda-benda seperti rel dan roda besi lori (kereta api kecil untuk mengangkut batang-batang tebu) dari pabrik gula tersebut masih banyak ditemukan dengan cara menggali tanah. Hal ini disebabkan karena benda-benda tersebut memang sudah tertimbun tanah sedalam 1 s.d 2 meter. Bukti yang lain bisa dilihat dengan banyaknya gundukan tanah yang membujur panjang membelah lahan persawahan disekitar desa Plandi  dan juga dusun Kengkeng (desa Bragolan) hingga sekarang. Mungkin gundukan-gundukan tanah tersebut bisa ditemukan ditempat lain, karena menurut cerita para simbah yang dulu sempat “menangi” pabrik gula tersebut, jalur lori tersebut menjangkau hampir ke seluruh perkebunan tebu yang membentang luas hingga wilayah Purwodadi, Bubutan, pinggiran sungai Bogowonto, Ngombol, Wunut, Wingko, Angkruk Ketip (selatan Bowok, Pundensari) dan desa-desa disekitarnya.

Pada masa kejayaannya, pabrik gula tersebut mampu memberikan sumbangan produksi gula 3 juta ton/tahun yang dihasilkan oleh 180 pabrik gula di pulau Jawa, sebagian besar hasil produksi untuk di ekspor ke luar negeri. Pada tahun 1916, keuntungan yang diraih oleh Pabrik Gula Jenar mencapai 51.000 Gulden. Namun sayangnya kesuksesan dari Pabrik Gula Jenar tidak membawa dampak positif untuk masyarakat disekitarnya. Keuntungan tersebut hanya dinikmati oleh pemilik modal dan juga “pengusaha perantara” yang saat itu banyak didominasi oleh etnis China saja, sedangkan penduduk disekitar lokasi pabrik gula tersebut hanya sebagai penonton saja, tidak lebih.

Pada bulan Oktober 1929 terjadi krisis ekonomi dunia yang dikenal dengan sebutan “Depresi Besar tahun 1929” yang dipicu oleh ambruknya bursa saham Wallstreet di New York dan akhirnya meluas ke seluruh dunia. Di Eropa, peristiwa depresi itu (The Great Depression) dikenal sebagai “Malaise” dan berimbas pada kesulitan hidup. Waktu itu permintaan dunia akan gula menurun drastis, sementara suplai terus datang membanjir sehingga merubah kondisi menjadi tidak seimbang. Pada akhirnya, kondisi ini memaksa diadakannya Sistem Quota untuk membatasi produksi gula saat itu yang terkenal sebagai Perjanjian Charbourne (1931) dan memaksa Indonesia (Jawa) untuk menurunkan produksi gula hingga 50% lebih, dari 3 juta ton menjadi 1,4 ton per tahun. Hal ini jugalah yang mengakibatkan 9 pabrik dari 17 pabrik gula yang ada di Yogyakarta akhirnya tutup. Pada tahun 1932  Pabrik Gula Jenar-pun mengalami kolaps (tidak stabil) dan akhirnya bangkrut, kemudian membubarkan diri pada tahun berikutnya, 1933.

Didesa Pulutan yang masuk wilayah kecamatan Ngombol, masih bisa ditemukan jembatan yang dibangun oleh SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925, itulah satu-satunya peninggalan sejarah yang bisa membuktikan keberadaan serta kejayaan Pabrik Gula Jenar pada waktu itu.

Berikut gambar-gambar bangunan Pabrik Gula Jenar “tempo doeloe”.


Sumber artikel dan gambar: Blogger Purworejo

  1. Belum ada komentar.
  1. 12 Juli 2011 pukul 3:48 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: