W.R. Supratman, Maha Putera Tanah Bagelen

Sang komponis Wage Rudolf Supratman

Nama lengkapnya adalah Wage Rudolf Supratman (*W.R Supratman), seorang komponis besar yang telah menciptakan lagu “Indonesia Raya“, lagu kebangsaan sekaligus kebanggaan seluruh bangsa Indonesia yang selalu dinyanyikan di setiap upacara di sekolah-sekolah, selalu mengiringi pengibaran serta penurunan Sang Saka Merah Putih. Ada 2 versi yang menyebutkan tempat lahir beliau. Versi I W.R Supratman lahir di MR Cornelis (Jatinegara, Jakarta), sedangkan versi ke 2 menyebutkan bahwa W.R Supratman lahir di dukuh Trembelang, desa Somongari, kec. Kaligesing, kab. Purworejo. Untuk versi I dikutip dari seorang penulis bernama Matu Mona dan Abdullah Puar. Versi ini dikutip dari surat jawaban yang diterima oleh Matu Mona yang dikirimkan oleh Ny. Rukinem Supratiyah (*kakak W.R Supratman).

Pada wawancara yang dilakukan oleh Sekretaris Tim Peneliti dan Penetapan Tempat Kelahiran WR Supratman dalam rangka penulisan buku “Komponis dan Jurnalis Nasionalis WR Supratman, Maha Putera Tanah Bagelen” terhadap Urip Supardjo di kediamannya Jl. Veteran Jakarta, Urip Supardjo menyatakan bahwa surat jawaban untuk Matu Mona yang ditulisnya dengan tempat kelahiran W.R Supratman di MR Cornelis (Jatinegara) hanyalah pertimbangan praktis dan gengsi semata, namun sesungguhnya W.R Supratman dilahirkan di Dukuh Trembelang Desa Somongari Kabupaten Purworejo. Baca selanjutnya…

Sang Komandan, Jenderal Sarwo Edhi Wibowo

Jenderal Sarwo Edhi Wibowo

Sarwo Edhi (Sarwo Edhi Wibowo) adalah seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang sejak dari kecil sudah memiliki bakat menjadi pemimpin. Semasa kecil, Sarwo Edhi punya hobi berkelahi dan mengadu nyali (keberanian). Sampai pada akhirnya beliau belajar silat untuk mengasah kepandaiannya berkelahi. Namun anehnya, setelah beliau mampu bermain silat dengan baik, beliau justru jarang berkelahi. Usut punya usut, ternyata teman-teman yang diajaknya berkelahi sudah ketakutan sebelum perkelahian itu sendiri terjadi. Ayah Sarwo Edhi adalah seorang pegawai negeri sipil dan saat itu menjabat sebagai Kepala Pegadaian pada masa penjajahan Belanda. Karena dididik oleh seorang pegawai negeri sipil, Sarwo Edhi kecil menjadikan ayahnya sebagai gambaran ideal baginya.

Sejak kecil Sarwo Edhi sangat ingin menjadi seorang prajurit. Ia mengagumi para tentara Jepang yang selalu memenangkan pertempuran melawan sekutu. Oleh sebab itu, ia mendaftarkan diri menjadi Heiho (pembantu tentara) di Surabaya dengan harapan kelak bisa menjadi tentara. Sayang, selama ia menjadi Heiho tidak diberikan pendidikan dan keterampilan perang yang membuat ia tangguh menjadi seorang prajurit. Akhirnya ia meninggalkan pekerjaannya sebagai Heiho. Setelah beberapa waktu, ia bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) . Beliau membentuk batalion yang akhirnya bubar. Akhirnya, tawaran membentuk batalion datang dari Jenderal Ahmad Yani (pahlawan revolusi) yang mengajaknya membentuk batalion di Magelang, Jawa Tengah. Sarwo Edhi-pun kembali menjadi seorang prajurit. Baca selanjutnya…

Jenderal Oerip Sumoharjo, sang bapak TNI

Siapa sebenarnya Jenderal Oerip Sumoharjo?
Beliau adalah salah seorang Pahlawan Nasional yang juga terlahir di Purworejo. Selain itu, Jenderal Oerip Sumoharjo merupakan salah satu tokoh yang ikut serta dalam membangun berdirinya TNI (Tentara Nasional Indonesia) bersama dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Semasa kecil, tokoh yang lahir di Purworejo pada tanggal 23 Februari 1893 ini memiliki nama Muhammad Sidik. Pada mulanya Jenderal Oerip Sumoharjo bercita-cita untuk menjadi seorang pegawai pemerintah, oleh karenanya beliau menuntut ilmunya di OSVIA (Sekolah Calon Pegawai Pemerintah) di Magelang. Namun lambat laun keinginannya untuk menjadi seorang tentara-pun tumbuh, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari OSVIA kemudian masuk sekolah militer di Jakarta. Beliau lulus dari sekolah tersebut dengan menyandang predikat sebagai perwira teladan (1913) dengan nilai yang sangat bagus. Tak lama kemudian beliau berdinas di KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger), yaitu tentara Kerajaan Hindia Belanda. Walaupun KNIL merupakan tentara Kerajaan Hindia Belanda, namun anggotanya lebih banyak didominasi oleh orang pribumi (Indonesia) dan juga Indo-Belanda dibanding orang Belanda asli. Tokoh-tokoh yang tergabung dalam KNIL saat itu antara lain A.H. Nasution, Gatot Subroto, T.B. Simatupang dan A.E. Kawilarang yang pada akhirnya memegang peranan penting dalam pembangunan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada masa kemerdekaan. Baca selanjutnya…

Bedug Kyai Bagelen, peninggalan keagungan dimasa lalu

Bedug Kyai Bagelen atau yang juga dikenal sebagai Bedug Pendowo yang dibuat sekitar tahun 1762 Jawa / 1834 Masehi merupakan salah satu aset wisata daerah Kabupaten Purworejo yang cukup banyak menyerap wisatawan. Dulu, pada saat kabupaten Purworejo masih berstatus sebagai Kadipaten, KRAA Cokronagoro I memerintahkan kepada Raden Patih Cokrojoyo untuk membuat bedug yang berasal dari kayu jati yang diambil dari hutan Pendowo wilayah desa Bragolan. Raden Patih Cokrojoyo memanggil Wedono Bragolan yaitu Raden Tumenggung Prawironegoro yang juga adik dari KRAA Cokronagoro I sendiri, untuk bersama-sama melaksanakan perintah tersebut. Akhirnya disepakati untuk membuat bedug besar dengan menggunakan bahan dari “bongkot” (pangkal) kayu jati bang atau pohon kayu jati yang bercabang lima (dalam Serat Kaweruh Kalang / ilmu bangunan Jawa disebut sebagai pohon Jati Pendowo), daerah dimana terdapat pohon jati pendowo ini disebut sebagai dusun Pendowo Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi (lokasi tepatnya dikompleks Puskesmas “Jati” / Puskesmas Bragolan, 300m dari tempat tinggal penulis).

Bedug Kyai Bagelen (Bedug Pendowo)

Setelah mendapatkan restu dari Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I, maka dimulailah pembuatan Bedug Agung tersebut yang memakan waktu cukup lama. Hal ini disebabkan karena peralatan yang dipergunakan pada masa itu belumlah semodern seperti sekarang ini. Proses pembuatan bedug tersebut senantiasa didukung oleh para ulama yang selalu memohon kehadirat Allah SWT agar mendapatkan petunjuk serta kekuatan-Nya. Baca selanjutnya…

Asal usul Purworejo

Pada jaman dulu, hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah bagian selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling merupakan wilayah Kerajaan Galuh. Oleh karena itu, menurut Profesor Purbocaraka wilayah itu disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai Pagalihan. Dari nama Pagalihan ini lama kelamaan berubah menjadi Pagelen, dan terakhir menjadi Bagelen hingga sekarang. Di kawasan tersebut mengalir sungai besar yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama Watukuro sampai sekarang masih ada dan menjadi nama sebuah desa yang terletak dekat muara pantai Congot (Kulon Progo, Yogyakarta). Desa Watukuro sendiri masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Dulu, di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakat hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dibidang pertanian dan memiliki kebudayaan yang tinggi.

Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Margasira, bertepatan dengan Siva (5 Oktober 901 Masehi), terjadilah suatu peristiwa penting yaitu pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai Prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.
Prasasti yang ditemukan dibawah pohon Sono di dusun Boro Tengah tersebut (sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan, Kecamatan Banyuurip) disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 sejak tahun 1890. Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro. Baca selanjutnya…

Tempo Doeloe, polemik berdirinya Pasar Baledono

9 Juli 2011 2 komentar

Apabila anda (dari luar kota) datang ke Purworejo dan menanyakan alamat Pasar Baledono kepada seorang tukang becak (misalnya), saya yakin si tukang becak tersebut akan langsung menjawab dengan tegas, “...teng jalan A. Yani mas… (*di jalan A. Yani mas…). Namun siapa sangka jika tempo doeloe (di jaman simbah-simbah kita baru mengenal pecahan uang yang tidak akan kita dapati sekarang) dalam perkembangannya sebagai urat nadi perekonomian di Purworejo, Pasar Baledono sempat menimbulkan polemik yang cukup rumit antara para pendiri pasar tersebut dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo pada saat itu.

Pasar Baledono tempo doeloe (1930)

Pasar yang kini berdiri cukup megah (dua lantai) dan memiliki luas lahan 13.600 m2 tersebut pada awalnya didirikan sekitar tahun 1850-an, yaitu saat Soma Taruna menjabat sebagai Kepala Desa Baledono. Baca selanjutnya…

Pabrik Gula “Jenar” di era Kolonial Belanda

9 Juli 2011 1 komentar

Nama desa itu dikenal sebagai Jenar, dan saya yakin nama desa tersebut akrab di telinga masyarakat Purworejo, khususnya para penduduk di wilayah kecamatan Purwodadi, kecamatan Ngombol dan juga kecamatan Bagelen. Ada apa dengan Jenar dimasa kolonial Belanda “tempo doeloe”? Ternyata nama desa Jenar memiliki arti penting dalam catatan sejarah, hampir sama seperti daerah-daerah lainnya di Purworejo. Dulu (di masa kolonial Belanda), pernah didirikan sebuah Suikerfabriek atau dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan Pabrik Gula. Suikerfabriek Poerworedjo sendiri dibangun pada tahun 1909 oleh N.V.Suikeronderneming “Poerworedjo”, yaitu sebuah PT (Perusahaan Terbuka) yang dibentuk di Amsterdam (Belanda) pada tahun 1908. Tujuan PT tersebut tak lain adalah untuk mengusahakan berdirinya sebuah pabrik gula di Purworejo dengan menghabiskan modal 5 juta gulden yang terbagi dalam saham masing-masing lembar senilai 1000 gulden. Pada saat itu orang Belanda berlomba lomba untuk mendirikan pabrik gula di Jawa sehubungan dengan adanya fasilitas berdasar Undang-Undang Agraria tahun 1870 dan juga mengingat kebutuhan gula di dunia meningkat sangat tajam. Dan hal itu jugalah yang memicu pertumbuhan pabrik gula di Jawa berkembang pesat hingga mencapai jumlah 180 pabrik pada akhir tahun 1920. Saat itu, Indonesia (Jawa) menjadi salah satu pengeskpor gula terbesar di dunia bersama dengan Kuba. Baca selanjutnya…