Beranda > Sejarah, Tokoh Masyarakat > Tempo Doeloe, polemik berdirinya Pasar Baledono

Tempo Doeloe, polemik berdirinya Pasar Baledono

Apabila anda (dari luar kota) datang ke Purworejo dan menanyakan alamat Pasar Baledono kepada seorang tukang becak (misalnya), saya yakin si tukang becak tersebut akan langsung menjawab dengan tegas, “...teng jalan A. Yani mas… (*di jalan A. Yani mas…). Namun siapa sangka jika tempo doeloe (di jaman simbah-simbah kita baru mengenal pecahan uang yang tidak akan kita dapati sekarang) dalam perkembangannya sebagai urat nadi perekonomian di Purworejo, Pasar Baledono sempat menimbulkan polemik yang cukup rumit antara para pendiri pasar tersebut dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo pada saat itu.

Pasar Baledono tempo doeloe (1930)

Pasar yang kini berdiri cukup megah (dua lantai) dan memiliki luas lahan 13.600 m2 tersebut pada awalnya didirikan sekitar tahun 1850-an, yaitu saat Soma Taruna menjabat sebagai Kepala Desa Baledono. Dulu, tujuan utama pendirian pasar tersebut adalah sebagai bentuk usaha yang sah dari pemerintah desa, dimana pendapatan yang nantinya diperoleh dipergunakan untuk penyelenggaraan operasional desa, termasuk gaji bagi perangkat desa. Hal ini disebabkan karena pada saat itu pemerintah desa Baledono belum memiliki tanah bengkok untuk para perangkatnya. Pada akhirnya, berdasarkan pada hasil dari rembug desa tercetuslah kesepakatan untuk membeli tanah yang berlokasi di pinggir jalan (sekarang jln. A. Yani) dan merealisasikan pembangunan Pasar Baledono. Sedangkan pengumpulan uang guna membayar pembelian tanah tersebut dilakukan dengan cara “urunan” beberapa perangkat desa Baledono. Menurut Mbah Saridjan Prawirodiharjo (seorang mantan Bekel Baledono saat itu), dari sebidang tanah yang berhasil dibeli untuk pasar lambat laun semakin meluas kekanan, kekiri dan ke belakang akhirnya pasar Baledono menjadi semakin luas. Bahkan dari pengumpulan bea yang dipungut oleh pemerintah desa lama kelamaan bisa untuk membeli tanah bengkok untuk perangkat desa.

Pasar Baledono diminta Pemerintah
Melihat perkembangan pasar Baledono yang berubah semakin besar, sekitar tahun 1915-1920 PEMDA Kabupaten Purworejo mulai meliriknya. Pihak Regent Schap (pemerintah kabupaten) berkeinginan mengambil alih pengelolaan pasar Baledono. Maksud peng-ambilalih-an tersebut (seperti yang dikatakan oleh mbah Saridjan) agar pemerintah desa tidak kerepotan didalam melaksanakan tugasnya dalam melayani masyarakat. Pasar akan dikelola oleh pemerintah kabupaten Purworejo, sedangkan para pamong tetap memikirkan tugas- tugas pemerintah desa. Niat pemerintah kabupaten untuk mengambil alih pengelolaan pasar ini sempat mendapat tantangan cukup keras, tidak saja dari pamong melainkan juga dari warga setempat. Hal ini dikarenakan pendirian pasar adalah murni dari masyarakat Baledono secara swadaya.

Namun pada akhirnya niat pemerintah untuk mengambil alih pengelolaan pasar Baledono benar-benar terwujud setelah sebelumnya melalui berbagai pertemuan dan musyawarah yang alot, serta melibatkan semua pihak baik masyarakat Baledono, pemerintahan kabupaten dan tokoh- tokoh masyarakat lainnya. Dalam kesepakatan tersebut antara lain disebutkan bahwa pihak desa akan melepaskan pengelolaan pasar tersebut kepada pemerintahan kabupaten dengan catatan pihak desa mendapat bagi hasil yang besarnya 30%. Maksudnya sebagaimana yang diungkapkan oleh mbah Saridjan, desa mendapatkan 30% dari penarikan bea (retribusi) pasar maupun pendapatan lain. Sedangkan 70 % menjadi hak pemerintah kabupaten. Namun demikian dalam kenyataannya perjanjian tersebut tidak sebagaimana yang diharapkan, karena pencairan hak sebesar 30% tersebut baru bisa diterima setiap 3 bulan sekali. Dalam kesepakatan tersebut juga disepakati, bahwa pihak pemerintah kabupaten bertanggung jawab atas perbaikan pasar dengan dana dari pemerintah kabupaten. Dan permintaan yang paling prinsip adalah sampai kapanpun pasar tersebut namanya tetap “Pasar Baledono” tidak bisa diganti dengan nama apapun.

Prosentase penerimaan bagi hasil pasar Baledono ini lancar sampai pemerintahan Kepala Desa Iskak yang menggantikan kakaknya Tamziz pada tahun 1920-1943 silam. Hanya saja pada waktu itu (saat pemerintahan Jepang), pembagian hasil tersebut menjadi tersendat bahkan tidak ada sama sekali. Kondisi itu terus berlanjut hingga tahun 1950 pemerintah kabupaten Purworejo menegaskan bahwa tidak ada lagi menerima bagian sebesar 30% dari hasil penerimaan pasar tersebut ditiadakan dengan alasan rugi. Mbah Saridjan yang pada waktu itu mendapat mandat sebagai kepala desa karena kades Iskak meninggal dunia, melakukan protes keras. Sehingga pada saat itu dengan diantar camat purworejo waktu itu menghadap bupati untuk memperjuangkan hak penerimaan pasar. Meskipun prosentase pembagiannya tidak seperti dulu lagi besarnya.

Dalam pembahasan di DPRD, akhirnya diputuskan bahwa pasar Baledono akan mendapatkan bagian kas pasar yang besarnya 3%. Dengan rincian 2 % untuk pamong desa dan 1 % untuk kas desa. Waktu itu pamong bisa menerima putusan tersebut, sebab desa Baledono sudah memiliki tanah bengkok desa yang dibeli dari uang kas desa. Namun sejalan dengan tata pemerintahan dimana pasar Baledono berubah statusnya menjadi kelurahan pada tahun 1980, maka semua tanah bengkok milik desa Baledono diambil alih oleh PEMDA, sedangkan para perangkatnya kemudian diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Bengkok yang diambil alih itu kemudian dikontrakkan dan sebagian besar juga jatuh ke perangkatnya. Mbah Saridjan sendiri yang mulai mengabdi sebagai perangkat desa sejak tahun 1942 berbekal ijazah Schakel School (5 tahun) dan ditambah Ambacht School (sekolah teknik) selama 2 tahun, berhak menikmati beslit dari PEMDA sebagai Pegawai Negeri, meski beliau harus pensiun setelah 3 bulan kemudian setelah memegang SK tersebut.

Sumber artikel: Purworejo Tempoe Doloe
Sumber gambar: tertera pada gambar

About these ads
  1. Pengelana
    11 Juli 2011 pukul 12:19 pm

    Wah, pasar Baledono ternyata dulunya hasil swadaya toh… Hebat ya orang2 Baledono

  2. kunto
    9 Februari 2012 pukul 8:53 am

    sya kira itu dulu warisan pemerintah belanda

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: